BERAMAL LEWAT TULISAN

Rabu, 18 Juli 2012

NGAPAIN ke FILIPINA ?



Seperti biasa kami berangkat ber-3 bersama isteri dan anak ke Juanda International Airport dengan travel 60 ribuan / orang. Flight ke KL take off dan landingnya pun on time banget. Keluar dari pesawat, urusan imigrasi dan ambil1 bagasi beres semua, di Malaysia waktu sudah menunujukkan pukul 00:30.

Sambil menunggu flight ke Clark (Pampanga, Filipina) pada pukul 06:45 pagi sempatkan dulu isi perut dan tepar di LCCT sampai subuh. Itulah awal kisah petualangan kami ke Philippines. MABUHAY PILIPINO ... (Hidup Filipina !) ...


AIRPORT BEKAS PANGKALAN MILITER AS

Terbang di udara selama 3 jam dan 45 menit dari KL dan laju pesawat berakhir di Diosdado Macapagal International Airport (DMIA) di Clark-Pampanga, Philippines. Bandara yang sepi dan sederhana ini merupakan bekas Pangkalan Militer AS sewaktu Pemerintahan Presiden Ferdinant Marcos.

DMIA kini mulai difungsikan lebih optimal untuk melayani sejumlah penerbangan komersial. Hal tersebut ditandai dengan banyak beroperasinya maskapai Air Asia, Asiana Airways, Jin Air, Dragon Air, Cebu Airlines, Phil Express dan SE Air (South East Asia Air). Dari DMIA kita bisa terbang ke berbagai destinasi di Filipina maupun internasional. Destinasi domestiknya antara lain ke Davao, Cebu, Kalibo, Puerto Princesa dan ke Manila. Sedangkan destinasi internasionalnya ke Singapore, Kuala Lumpur, Kinabalu, Hong Kong dan Macau.

Layanan imigrasinya hanya ada dua counter, satu untuk warga negara Filipina dan satunya lagi untuk warga negara asing (Foreigner Passpor) . Karena jumlah counter imigrasi yang terbatas, kita mesti sabar menunggu giliran. Bunyi stempel 'cetok' menandai paspor kami, artinya kami diperbolehkan tinggal di Wilayah Filipina maksimum 21 hari.

Bebas dari imigrasi, kini giliran bagasi kami yang diminta Petugas Custom untuk dibuka. "Apa isi tas ini ?", tanya Petugas. Pakaian Sir, jawabku. "Oke silakan ... silakan",  katanya mempersilakan kami.

Uang Philippines Peso (PHP) yang kami bawa dari tanah air hanya 2000 Peso, lainnya adalah US$ pecahan 100. Sebelum keluar Bandara, aku tukarkan 200 US$ di money changer. Waktu itu dapat 8370 Peso (1 US$ = 41,85 Peso).


MASIH TENTANG DMIA

Airport Tax atau Terminal Fee (TF) dibayar terpisah seperti di Bandara-Bandara Indonesia. Untuk tujuan domestik dari Clark kami harus bayar 150 Peso (PHP) setara dengan 35 ribu Rupiah. Sedangkan dari Davao Airport untuk domestik 200 Peso atau 45 ribuan. TF International-nya dipatok 600 Peso atau 140 ribuan. Kurs pada saat itu, 1 Peso sekitar Rp. 225. Info dari teman yang baru saja meninggalkan Clark pada akhir Oktober 2012, TF International turun menjadi 450 Peso.

Bandara Clark berlantai dua. Pada lantai 1 terdapat counter check in, counter TF, imigrasi, ruang tunggu dan outlet makanan minuman. Sedangkan pada lantai 2 terdapat outlet-outlet yang lebih mewah, ruang tunggu biasa dan lounge.

DAVAO AIRPORT
Terminal yang sederhana ini belum memisahkan antara Terminal Domestik dan International-nya. Keduanya masih memakai fasilitas yang sama. Para calon penumpang akan benar-benar terpisah setelah keluar dari scanner terakhir untuk kemudian masing-masing calon penumpang menuju ruang tunggu sesuai tujuannya.

Form isian imigrasi dan custom untuk masuk ke Filipina sudah diberi ketika di atas pesawat. Sedangkan form isian imigrasi keluar Filipina tersedia di ruang check in.

Secara umum, inilah step akses terbang melalui Clark :
  • Perlihatkan tiket + ID Card asli atau copy-nya kepada petugas
  • Pemeriksaan pertama barang dan tubuh lewat scanner
  • Check in, serahkan boarding pass + ID Card atau copy-nya
  • Bayar TF di counter khusus
  • Pemeriksaan imigrasi untuk tujuan internasional
  • Pemeriksaan terakhir barang dan tubuh lewat scanner termasuk alas kaki / sabuk
  • Masuk ruang tunggu domestik atau internasional
  • Menuju ke pesawat
Fasilitas lain di Arrival dan Departure Hall adalah money changer dan di bagian lain tersedia tempat dimana brosur-brosur wisata Filipina bisa diambil gratis. Bandara DMIA ini telah menyandang Sertifikat ISO 9001 tahun 2008.


TRANSPORTASI DARI CLARK

Cukup jalan kaki beberapa meter keluar Bandara, di sana sudah menunggu Shuttle Bus AC Philtranco  tujuan Pasay, Manila. Taripnya 450 Peso (100 ribuan) dengan waktu tempuh normal 2,5 jam. Ada juga Jeepney AC (Angkot) tujuan Terminal Dau atau sering juga disebut Terminal Mabalacat 50 Peso (12 ribuan) waktu tempuh 20 menitan.

Di parkiran bus dan jeepney Bandara Clark, ada petugas 'Dispatcher Jeepney' tujuan khusus ke Dau. Dia adalah Richard, orangnya ramah. Dia bisa bicara Inggeris dan beberapa kata Bahasa Indonesia. Papan kecil bertuliskan 'JEEPNEY to DAU' selalu dipegangnya.

Kalau mau hemat ke Manila bisa coba naik Jeepney AC dulu (bayar 50 Peso), kemudian sambung naik bus AC di Terminal Dau / Mabalacat 150 Peso. Jadi total dari Clark ke Manila hanya 200 Peso. Sampai di Pasay bisa ambil angkutan lain menuju hotel mana yang akan kita stay. Pilihan bisa pakai jeepney atau taxi.

Tentu saja kami memilih angkutan yang lebih murah yakni kombinasi jeepney dan bus. Setelah naik Jeepney AC ke Terminal Mabalacat, kemudian cari bus 'Victory Liner' atau 'Five Star'. kedua bus ini menuju Terminal Pasay, Manila. Karena haus kami beli sebotol green tea 500 ml 30 Peso (7 ribuan) dan Minute Maid Pulpy Orange dengan harga yang sama.

Bus Victory Liner agak terlambat masuk Pasay karena jalanan macet, padahal itu hari minggu. Kalau hari kerja pasti lebih lama lagi karena lalu lintasnya lebih macet lagi. Bus bisa berhenti dimana kita mau sebelum masuk ke Terminal Pasay. Namun karena belum tahu medannya, terpaksa kami turun di terminal akhir Pasay. Di Pasay coba masuk Hotel SOGO dan tanyakan berapa rate kamarnya. Wah disini lebih mahal, untuk stay 24 jam rate-nya lebih dari 2 ribu Peso. Akhirnya permisi keluar karena taripnya nggak sesuai budget.


CARI PENGINAPAN MURAH

Ambil taxi argo untuk mencari penginapan murah di daerah Malate atau Ermita. Mulai buka pintu taxi, awal meter sudah bertengger 40 Peso (9 ribuan). Akhirnya pilihan jatuh pada Guest House, GH Friendly's di Jalan Adriatico dekat pertigaan dengan Jalan Nakhpil dan taxi kena 130 Peso (30 ribuan). Pilih kamar AC untuk ber-3 dengan kamar mandi share, dapat harga 1200 Peso (275 ribuan). Fasilitasnya free Wify, free minum teh / kopi / susu any time, ada internet dan bar. Ini adalah GH backpacker yang lokasinya sangat strategis, spot-spot wisata banyak tersebar di sekitar situ.

Malamnya pura-pura kalau isteri nggak kuat dinginnya AC dan aku bilang pada petugas GH mau eksten 2 malam lagi tapi butuh kamar yang fan saja. Akhirnya dapat juga kamar dengan harga 1000 Peso dan kami langsung bayar. Lumayan bisa lebih hemat. Menjelang malam pertama tidur di Manila kami beraksi masak dengan magic com yang kami bawa dari tanah air. Masak air bikin teh dan kopi capucino, kemudian dilanjutkan dengan masak nasi. Setelah itu seduh mie cup lalu makan ber-3 dengan bumbu pecel, telor asin dan rendang kering. Hhm ... Alhamdulillah rasanya nikmat, hemat dan halal.

                                                   
SEMBAKO
Karena alasan sulit mendapatkan makanan halal, kami sengaja bawa 'sembako' dari tanah air antara lain 2 Kg beras, bumbu pecel, mie cup, energen, teh dan kopi sachet, kripik tempe, rendang kering dan telor asin. Tak ketinggalan bawa magic com untuk mengolah bahan baku sewaktu-waktu ingin makan.


Sekilas cerita tentang GH Friendly's. GH ini letaknya sangat strategis yakni di perkotaan daerah Malate dan Ermita. Posisinya ada di lantai 3, 4 dan lantai 5. Kamar-kamar tersebar di lantai 3 dan 4. Menuju kamar harus melewati jalan yang berliku seperti masuk dalam labirin. Lobby kecil tempat reservasi ada di lantai 4. Di lantai 5 ada bar, tersedia space lumayan luas, meja besar, layanan internet (1 jam 40 Peso atau minimal 30 menit 20 Peso) dan kitchen self service.

Untuk mencapai lantai 3, 4 ataupun lantai 5 GH ini bisa pakai lift atau menapaki anak tangga. Petugas GH dan para asistennya ramah dan selalu siap melayani tamu memberi informasi tentang wisata di Filipina. Salah satu petugas GH adalah Bobby. Dia mahir berbahasa Inggeris. Bila perlu brosur ataupun peta bisa ambil gratis di lobby GH. Di sepanjang Jalan Adriatico, Nakhpil dan sekitarnya sangat ramai suasananya, apalagi pada malam hari. Seperti juga di kawasan backpacker Khao san road Bangkok. Hotel, bar, panti pijat, karaoke, pub, restoran dan money changer banyak tersebar di sini.

Tarip kamar di GH ini bervariasi harganya, tersedia kelas dorm sampai kamar private ber AC. Karena posisinya di jantung kota Manila harga kamar di GH ini terbilang agak mahal. Untuk mendapatkan informasi lebih jauh tentang GH ini bisa diperoleh lewat googling, namun website-nya tidak bisa diakses. Masalah ini aku tanyakan langsung ke petugas kenapa begitu ? Dia bilang website-nya pernah di hacker karena persaingan bisnis. Dia berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka akan segera memperbaikinya dengan informasi dan layanan yang lebih baik.

Ini dia alamat lengkapnya FRIENDLY'S GUESTHOUSE, 4/F Josefa Bldg, 1750 M. Adriatico corner J. Nakhpil Street, Malate, Manila.


TAK KENAL MAKA TAK SAYANG,  NGAPAIN ke FILIPINA ?

Filipina mempunyai 3 pulau besar, Luzon, Visayas dan Mindanao. Pulau-pulau lainnya ada sekitar 7 ribuan jumlahnya. Sehingga negara ini termasuk negara kepulauan terbesar ke-2 di dunia.

Negara tetangganya di utara adalah Taiwan dan di selatannya adalah Indonesia (Sulawesi Utara) serta di barat daya-nya ada Kinabalu (Malaysia).

Dari Indonesia atau Malaysia tersedia angkutan umum berupa kapal laut (boat / ferry) menuju Davao, Bongao, Jolo atau Zamboanga, semuanya ada di Filipina Selatan. Mayoritas penduduk Filipina adalah Katholik yang mencapai 90%. Menjadikan negara ini sebagai negara dengan penganut Katholik terbesar di Asia.

Metro Manila sebagai ibukota negara berada di Pulau Luzon. Macet dan sesak menjadi ciri utama ibukota negara ini. Bahasa yang dipakai sehari-hari adalah Filipino atau Tagalog dan bahasa Inggeris juga sering dipakai. Filipina memiliki obyek wisata andalan diantaranya masuk dalam warisan dunia 'World Heritage'. Jumlah penduduknya mencapai 90 juta jiwa terkonsentrasi di kota-kota besar, mengakibatkan kota terasa padat. Di banyak tempat terlihat orang berbondong-bondong mencari, mendatangi dan mendaftar lowongan kerja.

Manila yang padat dan sering macet ini menimbulkan istilah dari para sopir taxi. Mereka bilang kalau di Mindanao musuh utama pemerintah adalah 'terorist', tapi di Manila adalah kemacetan.

Sebagai negara yang dulu sebagai koloni Spanyol, banyak meninggalkan berbagai obyek bersejarah yang tersebar di seluruh negeri. Obyek-obyek bersejarah tersebut kini menjadi andalan utama turisme Filipina. Akibat kolonial Spanyol itu memberi pengaruh yang luas antara lain mengapa Filipina mempunyai penganut Katholik hingga 90% dan hampir semua jalan namanya berbau Bahasa Spanyol.

Berinteraksi dengan orang Filipina sangat menyenangkan. Kebanyakan dari mereka bersikap sopan, ramah dan enak diajak bicara. Secara phisik, orang Filipina hampir sama dengan orang Indonesia, namun lebih mirip dengan orang Sulawesi Utara seperti Manado. Hobi makan dan berbelanja menjadi ciri utama orang Filipina, terbukti dengan banyaknya rumah makan, mal-mal besar yang selalu dipadati para pengunjung.

Dengan apa kalau berinteraksi jual beli di Filipina ? dengan uang Peso pastinya. Di Filipina beredar uang kertas dan coin untuk bertransaksi. Uang kertas pecahannya mulai 20, 50, 100, 500 dan 1000 Peso, sedangkan uang coin pecahannya 1, 5 dan 10 Peso.

Putih bersih, seksi, cantik dan modis adalah bagian lain dari ciri orang Filipina. Semua itu bisa kita lihat ketika mereka berangkat kerja dengan jeepney, MRT atau ketika shoping di mal. Karena mempunyai phisik dan wajah yang mirip dengan orang Indonesia, kami sering langsung diajak bicara bahasa Tagalog. Kami bilang 'We are from Indonesia not Pilipino'.

Ingin tahu detail tentang Filipina, silakan kunjungi http://www.silent-gardens.com/

NEGERI PENUH BADAI

Karena posisinya yang di kelilingi lautan luas. Karena memiliki pulau kecil yang banyak, Filipina tidak bisa lepas dari ancaman badai tropis.

Berbagai macam badai kerap kali melanda negeri ini yang telah menelan banyak korban. Sebut saja Badai Bopha / Pablo, Badai Nock-ten, Badai Saola, Badai Vicente, Badai Washi, Badai Son Tinh, Badai Kai Tak, Badai Maliksi atau Badai Gaemi.


MODA TRANSPORTASI FILIPINA

Setelah mencoba bus dari Dau ke Pasay, dan beberapa kali mencoba jeepney juga taxi, ada moda angkutan lain yakni Three Cycle atau Beca Motor. Disamping itu ada moda angkutan massal LRT 'Light Rail Transit System' dan MRT 'Metro Rail Transit System'. Jalur LRT-1 mulai dari Monumento (North Terminal) sampai Baclaran (South Terminal). LRT-2 mulai dari Recto sampai Sentolan. Sedangkan MRT jalurnya mulai Taft Avenue sampai North Avenue. Di stasiun Taft Avenue (MRT) bisa transfer ke LRT di Stasiun EDSA, namun tiketnya sendiri-sendiri tidak bisa terusan.

Pertama kali coba naik Three Cycle sewaktu dari jalan raya Quiapo menuju Golden Mosque. Kami ber-3 naik moda angkutan ini dengan ongkos 40 Peso (9 ribuan).
Kalau naik LRT atau MRT ketika beli tiket harus antri panjang, begitu juga di dalam kereta pasti penuh sesak dan berdiri. Untuk masuk ke jalur LRT atau MRT calon penumpang harus diperiksa oleh security. Wanita akan diperiksa oleh security wanita, begitu juga laki-laki diperiksa oleh petugas laki-laki. Gerbong MRT ada yang khusus wanita atau campuran. Harga tiket LRT atau MRT kalau tidak salah maksimum hanya 15 Peso (3500an).  

Hati-hati kalau naik LRT atau MRT karena banyak copetnya. Menurut informasi yang saya dapat pelakunya biasa menyilet tas dan saku kita. Hal lain tentang LRT atau MRT adalah sistem petunjuk yang masih membingungkan terutama bagi para pendatang baru, dengan kata lain petunjuknya 'kurang informatif'.

Hati-hati juga kalau naik taxi, terutama dari mal besar. Indikasinya mereka parkir hanya 1 atau 2 taxi saja di tempat yang terpisah dar jalur antrian taxi. Jadi mereka tidak pada jalur antrian. Ya mereka menggunakan argo kuda. Biasanya argo terletak pada bagian bawah dashboard, bukan seperti lazimnya taxi lain yang berada tepat di depan kita.  Oknum ini menarik bayaran bisa sampai 3 kali lipat melalui argo kudanya. Kalau anda menemukan keadaan seperti ini, anda bisa minta turun atau laporkan saja ke polisi terdekat. Makanya disarankan mengambil taxi pada jalur antrian resmi agar lebih aman.

Kalau kita bayar taxi lebih baik pakai uang pas. Kalau tidak bayar pakai uang pas kembaliannya tidak langsung dikasih kalau kita tidak minta, malah mereka pura-pura bilang thank you.

Jeepney disini juga akan saya bahas tapi hanya sebatas yang kutahu. Jeepney adalah angkutan umum khas Filipina. Moda ini mulanya berasal dari 'Jeep Humphrey' yakni kendaraan militer AS. Setelah Amerika meninggalkan Filipina, kendaraan-kendaraan tersebut dimodifikasi dan body-nya dipanjangkan sehingga menjadi Jeepney sekarang ini.


Karena body-nya yang panjang, jeepney bisa mengangkut sampai 20 orang. Bentuknya unik seperti mainan saja kelihatannya. Pada bagian kemudi kebanyak tidak berpintu. Setiap jeepney punya nama sendiri-sendiri yang mencolok. Hal lainnya adalah body-nya dibuat dari stainless yang mengkilap mewah, full musik dan memiliki klakson yang antik.

Jeepney di Filipina jumlahnya banyak sekali, dimana-mana ada jeepney. Sehingga keberadaannya ikut berkontribusi memacetkan kota Manila.

Masing-masing penumpang akan langsung bayar ketika naik jeepney. Caranya uang akan dioper-operkan melalui penumpang lain hingga uang diterima sopir. Begitu juga kalau ada uang kembalian, dari sopir dioper-operkan sampai ke tangan penumpang yang bayar tadi. Walaupun demikian pekerjaan ini tidak pernah ada penumpang yang keberatan, semua enjoy saja.

Hampir semua jeepney tanpa kondektur. Sopir tidak pernah menengok ke belakang, paling-paling hanya melihat dari kaca spionnya. Hanya tangannya saja yang dimainkan menadah ke belakang. Setiap penumpang cukup menaruh ongkos atau mengambil kembaliannya dari telapak tangannya itu. Ada-ada saja orang Pilipino ini ....

Bus antar kota antar propinsi, tidak semua bus ada di terminal. Hanya terminal yang besar saja ada bus antar kota antar propinsi untuk mengambil penumpang. Sedangkan di terminal yang kecil, bus hanya berhenti sesaat untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Kebanyakan bus jenis ini berangkat dari pool-nya masing-masing. Ada benarnya juga, cara ini sedikit banyak akan mengurangi kepadatan di terminal. Hal ini pernah kami lakukan ketika pada hari terakhir meninggalkan kota Manila menuju Dau. Dari GH naik taxi menuju pool Bus Victory Liner (130 Peso). Di pool ini kami beli tiket dengan harga 150 Peso plus beberapa Peso lagi untuk asuransi.

Kalau naik dari terminal, ongkos baru ditarik di atas bus dan diberi karcis yang dilubangi berkali-kali tepat di setiap angka-angka sesuai dengan besar ongkosnya. Dari pool Victory Liner ke Dau lebih pendek waktu tempuhnya karena lalu lintas relatip lebih lancar. Disamping bus-nya yang nyaman, ada fasilitas lain yang sangat membantu customer yaitu di dalam bus ada Wify. Hal ini sudah kami buktikan sendiri bisa beroperasi normal.

Kendaraan roda 4 semuanya mempunyai kemudi di sebelah kiri dan jalannya di jalur kanan.      


JELAJAHI METRO MANILA, CLARK dan DAVAO

Menyusuri Metro Manila, kami mulai dari Clark ke Dau kemudian dengan bus menuju Pasay di Manila. Hari pertama di Manila kami mencoba jalan kaki ke Manila Bay (Bay Walk) yang letaknya tidak begitu jauh dari GH. Suasana malam di bibir teluk sangat mengasyikan. Banyak orang duduk-duduk santai dan berjualan di sekitar situ. Namun suasana nyaman sedikit terganggu, baru saja duduk di pinggiran teluk sudah ada peminta-minta yang kurang jelas apa maksudnya. Dari kejauhan dia datang ke arah kami yang baru saja menikmati keindahan malam. Namun buru-buru kami meninggalkan lokasi untuk menghindari mereka kuatir kalau ada apa-apa. Walaupun hanya sebentar di situ, kami sempat berfoto-foto mengambil obyek yang menarik.

Keesokan harinya kami coba jalan kaki menuju Rizal Park dan Intramuros.  Ternyata kalau jalan kaki lumayan jauh (sekitar 2 km) dibanding kalau naik jeepney yang ongkosnya cuma 8 Peso aja (hampir 2 ribuan). Pertama kali memang enak jalan kaki mulai dari GH sampai tujuan untuk mengenal lebih jauh situasi riil Manila.

Tidak malu bertanya tujuannya adalah untuk ingin tahu lebih dalam tentang apa dan siapa itu Filipina. Kawasan Rizal Park hanya kami lewati saja, tujuan utama kami adalah ke Intramuros. Melewati gerbang batu yang menyerupai jembatan bertuliskan 'INTRAMUROS' dan ditandai papan petunjuk 'WELCOME to INTRAMUROS' berarti kami sudah masuk area tempo dulu bekas peninggalan Kolonial Spanyol.

Intramuros layaknya kota kecil yang dikelilingi benteng batu. Lokasi ini menjadi salah satu obyek wisata andalan utama Metro Manila yang sering dikunjungi turis mancanegara. Di Intramuros semuanya bukan obyek wisata yang mati namu semua peninggalan masih difungsikan sebagai gereja, sekolah dan kantor. Lalu lintas umum juga lewat situ. Transportasi khusus mengelilingi kawasan ini adalah delman berkuda, taripnya 350 Peso (80 ribuan) / jam plus giude. Jasa lain yang ditawarkan adalah tukang foto yang siap membidik pose terbaik para tamunya dengan biaya yang disepakati.

Salah satu obyek wisata di kawasan ini yang bayar adalah masuk ke Fort Santiago. Admition Fee nya sekitar 10 ribuan. Di situ pikiran kita akan dibawa ke masa lalu menyaksikan benteng dengan berbagai ornamennya yang masih kokoh dan lengkap itu. Pada sekitar tahun 1940-an di masa pendudukan Jepang banyak bangunan yang hancur karena pemboman.

Cuaca saat itu terasa panas menyengat sehingga kami harus sering minum air agar badan tetap segar. Merasa sudah cukup menyusuri Kota Tua Intramuros, kami melewati jalan yang berbeda ketika kembali menuju pintu masuk awal, kemudian mengunjungi Museum National dan City Hall. Selanjutnya kembali ke GH dengan jeepney ambil jurusan Baclaran dan turun di Jalan Nakhpil, ongkosnya tetap 8 Peso.

Di hari yang lain kami khusus mendatangi Rizal Park atau sering juga disebut Luneta Park dengan jeepney jurusan Quiapo naik dari Jalan Mabini. Aku minta Jeepney berhenti tepat di jalan antara dua park di kiri dan kanan. Pertama, mendatangi taman di sebelah kanan. Di situ terdapat mounumen yang tinggi dengan obyek utama Patung Pahlawan Lapu Lapu. Tidak jauh dari situ tampak bagian belakang Museum National dan Gedung Department Tourism of Philippines.

Berikutnya menuju taman sebelah kiri yang luas, ada monumen dan Patung Pahlawan Filipina, Jose Rizal. Taman ini menyerupai Taman Monas. Di situ dapat dilihat berjajar patung-patung setengah badan para tokoh penting pejuang Filipina. Di dalam taman ini banyak orang jalan santai dan  duduk-duduk atau berolah raga. Ada juga kereta wisata yang mengelilingi taman ini. Bunga-bunga dan kolam sangat kental melengkapi landscape Luneta Park ini. Monumen Rizal Park selalu dijaga bergilir oleh tentara negara yang mondar-mandir berpatroli tegap. Tampak juga dari kejauhan Hotel Manila yang megah.

Bertemu dengan turis asal Jepang, kami saling berkenalan dan saling tukar kartu nama. Kemudian foto bersama dengan kamera masing-masing. Menceritakan keindahan Indonesia dan mempersilakan datang ke Indonesia, itu hal yang aku sampaikan kepadanya. Selanjutnya pulang naik jeepney kembali dari ujung Jalan Del Pilar dan turun di depan Malate Church lalu jalan kaki ke GH.

Setelah ambil waktu untuk istirahat sampai dengan Maghrib, perjalanan kami lanjutkan menuju Mall of Asia dengan taxi argo. Sampai tujuan hanya bayar 100 Peso (23 ribuan), kalau jalanan agak macet argo bisa sampai 130 Peso. Para sopir taxi yang sempat aku tumpangi semuanya mampu berbahasa Inggeris sehingga memudahkan kita berkomunikasi.

Mall of Asia atau 'MoA' merupakan mal terbesar kedua di Asia. Mal-nya memang besar sekali dan lengkap. Apa saja ada di situ. Gerai fast food yang paling banyak adalah KFC, McD, Pizza Hut dan Jolibee. Gerai tersebut juga ada dimana-mana di seluruh Filipina.

Jolibee adalah resto fast food di bawah bendera JFC 'Jolibee Food Corporation'. Ini adalah resto Filipina terbesar menyaingi gerai-gerai fast food terkenal dunia. Resto yang berlogo lebah ini tersebar di seluruh negeri dan menjadi kebanggaan bangsa Filipina.  Dimana-mana ada Jolibee ...

Coba beli juice mangga di Hyper Market harganya 49 Peso (11 ribuan). Mencoba juga juice shake kelapa muda 'BUKO' dalam botol kemasan 500 ml, harganya 29 Peso (7 ribuan). Mampir ke 'KULTURA' di MoA yang menjual aneka souvenir khas Filipina. Bersama isteri dan putraku masing-masing memilih oleh-oleh sebagai buah tangan untuk para tetangga dan kerabat di tanah air. Tentunya belinya nggak bisa banyak-banyak karena ini traveling murah bukan shoping. Kultura menjual berbagai barang khas asal Filipina seperti manisan mangga kering 100 gr (67,75 Peso), kaos bordir jeepney (349,75 Peso), miniatur jeepney (399,75 Peso) dan miniatur Three Cycle.

Keunikan selalu ada di Filipina yang mempunyai ratusan mal dan namanya mesti diawali dengan 'SM'. Situasi di Mal-mal pasti ramai dipadati para pengunjung. Mereka senang dan hoby berbelanja, keranjang belanjaannya penuh bahkan sampai beberapa keranjang. Tidak hanya mereka memanjakan diri hadir shoping di berbagai mal, mereka juga mengajak serta anggota keluarga yang lain seperti anjing kesayangannya yang imut dan lucu.

Hal lain yang menjadi pusat perhatian adalah banner-banner raksasa yang terpampang pada spot-spot strategis di berbagai penjuru kota. Banner-banner ini menempati rangka besi yang sangat besar. Saking besarnya ada kekuatiran bagaimana kalau ambruk ? pasti korbannya bisa banyak.

Pagi-pagi meninggalkan GH menuju Golden Mosque di Quiapo, naik jeepney dari Jalan Mabini ke Quiapo. Ongkosnya sama hanya 8 Peso. Sampai di sana kami ber-3 naik Three Cycle menuju Masjid, ongkosnya 40 Peso.

Tiba di Masjid kami memperkenalkan diri dengan orang-orang yang ada di halaman Masjid. Tahu ada tamu yang datang dari Indonesia, warga Muslim lainnya pada berdatangan. Kami utarakan bahwa maksud kedatangan kami adalah untuk bersilaturahim dengan saudara-saudara Muslim di Filipina. Mereka menyambut dengan hangat dan antusias menerima kedatangan kami. Hari itu,  kami ber-3 tidak lupa mengenakan busana batik kebanggaan Bangsa Indonesia.

Tidak ingin membuang-buang waktu, kamipun segera membagikan bungkusan kripik tempe asli Malang yang sengaja kami bawa untuk mereka. Para sesepuhnya masing-masing kami beri 1 bungkus, sedangkan untuk anak-anak kami beri bijian sekedar bisa mencicipi makanan khas Malang. Beberapa bungkus bumbu pecel juga kami bagikan buat mereka. Kemudian memasukan uang ke dalam kotak-kotak amal dan memberi bantuan langsung kepada yang meminta kepada kami. Tidak banyak yang bisa kami salurkan untuk mereka. Walau sedikit, keikhlasan adalah yang utama bagi kami.

Ketika masuk Masjid kami melakukan shalat tahiyatul Masjid kemudian shalat Dhuha. Setelah itu bersilaturahim kepada Majelis yang sedang berdiskusi kajian Islam. Suasana menjadi lebih akrab karena banyak jamaah dan warga yang bisa berbahasa Indonesia maupun Inggeris. Jadi apa saja yang dibicarakan, kita semua mengerti maksudnya satu sama lain.

Alhamdulillah selama di Filipina kami ber-3 dapat menjalankan shalat 5 waktu dengan baik. Disamping membawa alas plastik besar seuluran sajadah, kami juga membawa Kompas Shalat yang tentu saja memudahkan kami dalam menentukan arah kiblat dimanapun berada.

Kunjungan kami akhiri dengan menyantap makanan halal yang dijual di salah satu kedai warga Muslim sekitar Masjid. Masakan Filipina menjadi pilihan utama menu makan siang hari ini. Ber-3 hanya habis 260 Peso (60 ribuan). Kami sampaikan ucapan terima kasih kepada saudara-saudaraku di Quiapo yang selalu mendampingi kami mulai dari kedatangan sampai meninggalkan kawasan ini.

Sambil berjalan di sekitar Quiapo kami lihat ada Lodge Muslim, lokasinya sangat cocok karena mudah mendapatkan makanan halal setiap waktu. Menurut kami jangan pernah takut atau kuatir memasuki kawasan Quiapo ini. Yang penting kita harus tetap sopan dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung, kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri. Selanjutnya hanya cukup berjalan kaki kami melewati underpass menuju Church of Quiapo. Di sekitar gereja ini terdapat pasar tradisional yang menjual hasil pertanian dan peternakan yang masih fresh.

Lanjut ke Istana Malacanang, kembali melewati underpass menunggu datangya jeepney menuju Malacanang Palace. Sambil menunggu jeepney kami berfoto ria bersama Three Cycle yang kami pinjam sejenak untuk action di depan kamera. Waktu foto-fotoan nggak disangka banyak sekali orang mengerubungi melihat tingkah kami. Sambil tersenyum dan tertawa bahagia, kami bagikan puluhan Sticker Keindahan Alam Indonesia. "Salamat ... salamat", katanya yang berarti terima kasih.

Memasuki area Malacanang sesungguhnya ada beberapa lapisan pengamanan seperti ring-3, 2, 1 dan khusus. Jeepney hanya melewati daerah ring-2, jalanan bebas dilewati untuk umum seperti juga jalan di depan Istana Negara Jakarta. Kami ber-3 turun di sudut jalan dekat istana. Di situ ada penjagaan yang selalu siap siaga mengawasi situasi. Kami say hallo kepada penjaga dan seraya menuju pagar istana.

Ketika mau ambil foto di depan salah satu pintu istana yang ada tulisannya 'Malacanang Palace' dilarang oleh petugas. Selanjutnya kami tetap berjalan di sepanjang pagar istana dan sekarang sudah berada tepat di pintu utama masuk istana, kami semua hormat dan permisi minta ijin untuk ambil foto, tapi tetap dilarang. Kami bilang bahwa kami dari Indonesia dan di Indonesia boleh-boleh saja berfoto dekat istana presiden (mungkin dia lihat isteriku berjilbab), jadi kuatir. Dia bilang tetap tidak boleh. Akhirnya kami menyebrang jalan meninggalkan pos penjagaan utama, lalu menjepretnya dari kejauhan. Menyaksikan hal ini, beberapa kali kami disemprit dan dia sudah mengangkat senjata karena kebandelan kami. Oke .. oke kataku dan segera berlalu menuju pos penjagaan pertama.

Kami sampaikan kepada petugas pos bahwa kami dari Inodonesia, we are tourist ... mau foto istana presiden untuk kenang-kenangan. Dia bilang, "Saya hanya menjalankan perintah bahwa itu dilarang". Ketika mendengar itu kami tetap tersenyum dan seraya memberi sejumlah sticker keindahan alam Indonesia dan I love Indonesia yang ada burung garudanya. "Salamat ... salamat", katanya.


Habis itu naik jeepney menuju Santa Cruz dan China Town, blusukan di kawasan ini menyusuri beberapa jalan dan pasar tradisional. Sebelumnya kami harus melewati gerbang khas China seperti Kya-Kya di Jalan Kembang Jepun Surabaya. Di muka gerbang China Town ada gereja tua yang artistik dengan air mancur di dekatnya. Di situ juga banyak sekali lalu lalang jeepney yang unik, tidak pantas rasanya kalau kami tidak abadikan suasana ini. Cuaca yang panas menyengat memaksa kami ber-3 benhenti sejenak menikmati segarnya es kelapa muda yang harganya cuma 5 Peso (seribu perak saja). Bersenda gurau bersama penjual es dan beberapa rekannya sangat mengasyikan. Kemudian foto bersama mereka dan tidak lupa memberi sticker keindahan alam Indonesia yang menjadi rebutan diantara mereka.

Kali ini kami nggak tau jalan harus ke arah mana, baca peta nggak nyambung. Akhirnya terpaksa bertanya ke security bank, bilang kalau kami mau naik LRT di Stasiun Correido. Dia hanya menunjukkan arahnya, selanjutnya kami harus mencari sendiri dimana stasiun tersebut berada.



Setelah berjalan menyusuri pertokoan, ketemu juga Stasiun Correido. Kemudian beli tiket tujuan Ayala yakni wilayah elit kawasan Makati. Namun LRT tidak bisa langsung ke Ayala, kami harus transfer lagi di Stasiun EDSA ke Stasiun Taft Avenue dengan jalan kaki yang lumayan jauh.

Kami dibantu Petugas Security Stasiun Correido ketika hendak naik LRT. Dia meminta kmi berhati-hati di dalam LRT karena sering banyak copet. Dan dia juga mengantar dan mendampingi kami sampai kereta datang. Sambil menunggu kereta dia bercerita kalau pernah tinggal di Jakarta. "Saya pernah tinggal di Jakarta dan bini saya orang Malaysia", katanya dengan bahasa Indonesia yang lancar. Sesaat menjelang kereta tiba kami foto bersama dan memberi sticker tentang keindahan alam Indonesia. Dia tampak senang sekali atas pemberian kami.

LRT datang dan membawa kami ke EDSA kemudian transfer ke Taft Avenue (MRT) menuju Ayala. Waktu beli tiket di Correido dan Taft Avenue (MRT) antrian sangat panjang dan penuh sesak. Ke Ayala pakai MRT, hanya melewati 2 stasiun. Keluar stasiun langsung langsung menuju SM South Bound yang bangunannya bersambung dengan Stasiun Ayala. Melihat-lihat apa saja yang dijual di SM ini, kemudian beli 2 minuman juice strawberry dan coklat. Mampir dan beli juga ke pusat souvenir di Kultura SM South Bound.  Setelah puas kami kembali naik MRT dari Ayala menuju Taft Avenue, beli tiket antri lagi seperti semula. Sampai di Taft Avenue kami keluar menuju Pasay dan cari jeepney yang lewat Malate kemudian kembali ke GH.

Sampai juga waktunya harus kembali ke Dau, selamat tinggal Manila I miss U. Dari Terminal Mabalacat (Dau) jalan kaki aja ke Sogo Hotel yang bergaya Japannese, semuanya berwarna merah menyala. Booking kamar ambil yang 1160 Peso. Fasilitasnya AC, dapat 2 pasang sendal, toiletary, TV cable dan tarip tersebut untuk stay 24 jam. Mengapa demikian karena di hotel ini mempunyai variasi tarip mulai 3, 10. 12 dan 24 hours. Kami diminta biaya tambahan karena ber-3. Kami bilang please help us ... no additional fee please. Akhirnya mereka setuju karena kami tinggal tidak sampai 24 jam.  

Sayang hotel ini tidak ada tempat penitipan barang (luggages storage) karena besok kami hanya bawa 1 bag untuk one day visit to Davao. Kubilang kepada supervisor hotel, tolong sampaikan ke Bos kedepan harus punya fasilitas penitipan barang, walau harus bayar. Terpaksa malam itu aku survey di Terminal Mabalacat apakah ada penitipan tas. Ternyata di Terminal Mabalacat juga tidak ada, akhirnya minta tolong pada pemilik warung di situ untuk titip 3 bags esok pagi. Alhamdulillah dia bersedia dan aku selipkan uang jasa 150 Peso kepadanya. Terus bilang kalau 3 bags tersebut aku akan ambil besok sore.

Sore hari menjelajahi Dau dan menggunakan Three Cycle menuju SM Clark bayar 50 Peso ber-3. Pulangnya pakai jeepney dari Terminal dekat SM Clark masing-masing bayar 8 Peso. Ketika sampai di SM Clark kami tidak langsung masuk mal namun foto-foto dulu bersama puluhan jeepney yang sedang ngetem di situ. Sebelumnya kami minta ijin dulu pada para pemilik jeepney untuk mengambil foto dengan berbagai phose. Disinilah tempat yang paling puas bersama jeepney seolah milik kami sendiri. Sebagai tanda terima kasih kepada mereka, kami foto bersama dan memberi sticker keindahan alam Indonesia. Mereka menyambut gembira pemberian kami dan sesekali berusaha bicara dengan Bahasa Indonesia sebisanya.

SM Clark juga besar dan lengkap yang melayani segala kebutuhan masyarakat Dau, Mabalacat, Balibago, Clark atau Angeles City. Outlet berbagai makanan, pakaian, permainan, cinema dan super market. Belanja di Hyper Market beli roti tawar, kacang, air mineral dan buah-buahan untuk persediaan malam dan esok pagi. Kemudian beli juice shake kelapa 'BUKO' yang dingin untuk di hotel. Aku kaget di Hyper Market ada mie bungkus 80 gr berlabel halal dari MUI, tapi harganya 3 kali lipat dibanding harga di tanah air. Ternyata banyak juga produk halal di Filipina, aku juga teliti lagi satu persatu memang benar banyak yang berlabel halal dari MUI atau lembaga Islam di Filipina. Keunikan baru muncul di sini, wow ... ada outlet togel di dalam mal. Luar biasa Filipina ....

Istirahat di hotel dan pasang alarm supaya besok tidak telat berangkat ke Davao. Pukul 7 pagi esok harinya check out dan booking kamar lagi untuk hari Jumat dan bayar cash dengan harga yang sama seperti kemarin plus tambahan biaya karena weekend. Urusan hotel beres semua, saatnya menuju ke Airport Clark dengan jeepney AC dari Terminal Mabalacat ongkosnya berbeda tidak seperti dari Clark ke Dau. Dari sini ongkosnya 100 Peso tapi berapapun penumpangnya langsung berangkat.

Check in dan proses lainnya di Clark sangat lancar sampai menjelang keberangkatan. Di situlah kami bertemu 4 orang asal Mindanao yang kemudian kami ngobrol lebih akrab dan saling memberi nomor handphone serta alamat. Mereka bilang nanti kalau pesawat tiba di Davao, anda saya antar sampai hotel. Benar saja apa yang mereka janjikan, tiba di Davao sudah ada petugas bandara yang menjemputnya. Petugas tersebut adalah saudaranya sendiri. Dan ternyata banyak saudara mereka yang bekerja di custom dan imigrasi di beberapa bandara Filipina seperti Clark, Davao dan NAIA (Ninoy Aquino International Airport).

Kami dikenalkan dengan beberapa saudaranya. Kemudian dengan mobilnya kami diajak bersama menuju rumah saudaranya. Rumahnya berada di pinggir pagar Airport Davao namun jalannya harus memutari bandara, inilah yang dimaksud dekat tapi jauh. Di situ hanya ada 20 rumah warga Muslim. Tiba di rumahnya kami dijamu makanan yang telah disiapkan sebelumnya. Makanan khas Filipina yaitu ayam bumbu dan salad tuna menjadi santapan kami bersama keluarganya.

Ketika di meja makan beliau sempat berkelakar kepada kami, "Apa perlu Nak Hamsa saya carikan priences-priences Muslim dari Mindanao sebagai isterimu ?". Putraku hanya menjawab, saya masih sekolah Pak Haji. Di kesempatan lain kami serta merta aku memberi sebuah Al Qur'an kepada Haji Ali lengkap dengan tasnya yang aku beli di Makkah, Arab Saudi. Dia merasa terharu, ini kejadian yang sangat tidak terduga sama sekali. Itulah kejadian yang Allah telah tetapkan pada kami. Semuanya tidak pernah kami rencanakan sebelumnya. Subhanallah ...

Dialah Haji Ali Bambang, 63 tahun saudara paling tua dari mereka yang selalu membantu dan melindungi kami. Posturnya tinggi besar, tegap dan masih terlihat segar enerjik. Beliau memberi beberapa nomor handphone saudara-saudaranya dan sesekali menelpon saudaranya yang lain memberi tau bahwa ada orang Indonesia datang ke Davao. Ketika bicara lewat HP, diapun memberi kesempatan kami untuk bicara dengan saudaranya yang bisa berbahasa Indonesia. Saudara beliau yang bernama Ibrahim, Khalid dan isterinya bernama Ibu Nurmala serta anak-anaknya semua ramah kepada kami.

"Welcome to Our Home Davao, brother Rusdi", demikian katanya. Kami sangat terharu, sebelumnya kenal beliau saja tidak pernah. Walaupun begitu beliau sangat hangat memperhatikan kami. Ternyata beliau adalah mantan pejuang Mujahidin MNLF (Moro National Liberation Front). Ayah dan kakek beliau juga sebagai pejuan Filipina sewaktu melawan kolonial Spanyol dan pendudukan Jepang. Beliau menunjukkan beberapa foto bersama putra mantan Presiden F. Marcos dan beberapa Menteri Pemerintahan Filipina.

"Brother Rusdi, kalau ada apa-apa segera telepon saya", pintanya kepada kami. Setelah beberapa kali foto bersama beliau dan keluarganya, kami diantar ke sebuah hotel. Beliau meminta petugas hotel untuk mengurus kami dengan baik. Kemudian kami berpisah dengannya sambil berangkulan dan menyampaikan terima kasih atas segala bantuannya. Sebelum beranjak pergi, dia sempat menyanyakan kepada kami besok pukul berapa Flight kembali ke Clark ? "Ok, besok saya jemput dan antar anda ke airport", katanya.

Hotel ELENA namanya, lokasinya di Jalan Nova Tierra, Lanang-Davao City, Phone 082 2331887. Itulah hotel yang direkomendasi oleh beliau. Meskipun menurut kami taripnya cukup mahal, kami harus hormati pilihannya. Kamar bertarip 2325 Peso, itu yang kami ambil untuk ber-3. Kamarnya sangat besar, 2 double bed, dapat breakfast dan ada free pengantaran ke airport, pendek kata cukup lengkap fasilitasnya.

Setelah istirahat sebentar dan mandi kami langsung jelajahi Davao dengan jeepney jurusan Panabo - Davao, ongkosnya 10 Peso / orang. Jumlah jeepney di Davao lebih sedikit daripada di Dau atau di Manila. Di kota ini ada moda transportasi selain jeepney seperti angkot umumnya di tanah Jawa, TRIAPCOM namanya. Sejenis angkot beroda 3 namun posisi bodinya berat ke belakang. Triapcom ini bisa mengakut sekitar 10 orang penumpang,

Keadaan Kota Davao hampir sama dengan kota-kota madya di Jawa, ada daerah dengan suasana perkotaan dan ada suasana pinggiran yang sangat sederhana. Di sepanjang jalan menuju Pusat Kota Davao khususnya di Jalan Raya Lanang sampai daerah Bajada banyak terdapat kantor agen otomotif merk terkenal.

Tak terasa jeepney sudah berjalan jauh dan kami lihat dari jendela ada sentra durian dekat pinggiran jalan. Deretan kios buah yang didominasi durian mewarnai pemandangan di sekitar situ. Jeepney kami beri isyarat untuk berhenti. Luar biasa duriannya banyak sekali menumpuk seperti gunungan dan ukurannya besar-besar. Harganya dijual kiloan, 60 Peso / Kg, kalau jeruk Bali 49 Peso / Kg. Sebagai pembuka kami kami mengambil 2 buah durian untuk dimakan di situ. Tidak buang-buang kesempatan, sambil menikmati lezatnya durian kami terus berinteraksi dengan para penjual untuk lebih mengenal karakter masyarakat Filipina. Cukup dulu menyantap 2 buah durian, sambil menunggu turunnya durian di dalam perut, kami jalan menyusuri pinggir pantai di dekat situ. Pantai Magsaysay namanya. Pantai yang indah, di tepinya ditumbuhi deretan pohon kelapa dan tambah di kejauhan ada beberapa kapal laut yang membuang sauh di tengah sana. Pantai yang bersatu dengan taman dihiasi dengan beberapa monumen dan ornamen yang indah.

Mengapa di Kota Davao banyak monumen duriannya ? ternyata kami baru tau kalau di Kawasan Davao (Mindanao) adalah daerah penghasil durian. Sangat kebetulan sekali bagi kami karena durian adalah kesukaan kami semua. Oleh sebab itu selepas jalan-jalan di pinggir Pantai Magsaysay kami kembali lagi ke tempat semula untuk menggasak beberapa buah durian lagi. Cukup puas sudah menikmati durian di Davao ini, kami pun foto bersama penjual durian dan membuat video sambil mereka meneriakan "Hallo Indonesia".

Durian bukanlah satu-satunya jenis buah yang ada di Davao, selain itu masih banyak jenis buah-buahan yang sangat berkualitas. Hampir semua jenis buah-buahan di Filipina rasanya manis dan segar. Pepaya mini, jeruk Bali, kelapa muda, nanas, mangga dan manggis itu semua tersedia di Filipina.

Selanjutnya kami naik angkot bukan jeepney menuju San Pedro, sebuah gereja yang sangat terkenal di Davao. Bukan gereja saja, di dekat situ juga ada City Hall of Davao, alun-alun, monumen Jose Rizal, pusat pertokoan dan sekolah. Kawasan yang menyatu ini dijadikan sebagai Taman Rakyat yang selalu ramai dikunjungi masyarakat untuk santai.

Mau tau keunikan apalagi yang ada di Filipina ? kali ini ada di Davao, yaitu jasa pijat jalanan. Di kawasan City Hall dekat monumen Jose Rizal ada sederetan kursi plastik yang digunakan untuk para tamu tukang pijat. Para pemijat di arena terbuka ini menawarkan pijat refleksi kaki, pijat setengah badan atau pijat sebadan penuh. Harganya berbeda-beda. Khusus untuk pijat seluruh tubuh dilakukan bukan di arena  terbuka tapi di dalam ruangan, yaitu di Gedung dimana Persatuan Pemijat itu berada.

Aku bersama isteri memilih pijat refleksi kaki karena waktunya tidak begitu lama. Dipijat oleh para pemijat profesional lulusan kursus refleksi sangat nyaman, walaupun dilihat oleh orang-orang yang lewat bersliweran. Pijat refleksi kaki taripnya hanya 60 Peso atau sekitar 15 ribuan. Bukan kami saja yang dipijat di sini, bersama kami banyak berjejer para tamu yang sedang pijat. Ada yang pijat refleksi kaki maupun pijat setengah badan mulai dari pinggang sampai kepala. Tamunya ada yang pria juga banyak yang wanita. Yang wanita bisa juga kita lirik 'bagian terlarangnya' asal kita mau karena mereka mungkin saja duduk di sebelah kita.

Ini momen yang unik dan menggelikan. Puluhan pelanggan berjejer pijat sehingga seperti pijatan masal. Tentu saja kejadian unik ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, oleh putraku diabadikan dengan kamera dan videonya. Jumlah pemijat di sini ada sekitar 15 orang yang tergabung dalam persatuan para pemijat Davao. Jam kerjanya mulai sore sampai tengah malam. Setelah badan terasa lentur dan segar kembali, aku beri mereka masing-masing 100 Peso kembaliannya aku serahkan sebagai tambahan mereka. "Salamat salamat", katanya.

Setelah pijat jelajah lagi ke depan San Pedro Kathedral kemudian beli es kelapa muda dan beberapa tusuk ayam goreng. Penjualnya seorang Ibu Muslim jadi produknya pasti halal. Segelas es kelapa muda dan ayam goreng masing-masing harganya 5 Peso. Tidak jauh dari situ ada Rumah Makan Muslim yang menyediakan berbagai menu ayam, daging dan sayur. Kami pesan paket nasi ayam goreng, lodeh dan lumpia masing-masing 3 porsi, semuanya habis 158 Peso.

Di Davao terlihat banyak Muslimya, ditandai banyak wanita berjilbab, masjid dan Rumah Makan Muslim. Hotel juga ada dimana-mana seperti Hotel El Bajada, Hotel Sycher Golden, Karen Inn dan J.P. Laurel Lodge, Roadway Inn dan Hotel Margarita di Bajada, Hotel Grand Regal di Jalan Raya Lanang, Hotel Durian dan hotel-hotel di depan Gaisano Mall of Davao. Taxi juga banyak, seperti 'Paru-Paru', Maligaya, Mabuhay, SNN (avansa), Blue, Shao&Prinz, Krizia, Mid Valley. Fasilitas kota lainnya ada Mall Victoria di Bajada, Abreeza Ayala Plaza, Gaisano Mall dan Bajada Plaza.

Itulah Davao. Sekarang sudah waktunya untuk kembali ke hotel dengan angkot jurusan Lanang (12 Peso), turun di muka rumah makan ayam bakar 'Patok San Manok' lalu jalan kaki ke Hotel Elena.

Keesokan harinya sehabis sarapan pukul 07.30 pagi, aku dan putraku kembali lagi ke San Pedro dengan angkot (12 Peso). Sedangkan isteriku tidak ikut karena harus menyiapkan semua barang untuk check out pukul 9 pagi. Mengunjungi San Pedro di pagi hari suasananya berbeda dibanding sore hari atau malam hari. Di pagi hari lebih sepi, hanya ramai oleh lalu lintas kendaraan yang mengangkut orang berangkat kerja, sedangkan di sore hari atau malam lebih ramai oleh para pedagang PKL, orang bersantai, orang beribadah, orang berolah raga dan berbelanja.

Karena terburu-buru pagi tadi, aku belum sempat ke toilet yang menjadi kebiasaanku. Kepanikan sedikit terjadi ketika berada di dekat San Pedro, aku harus cepat-cepat cari toilet. Hampir tidak mungkin kalau aku selesaikan di hotel. Toilet di San Pedro dikunci. Telusuri jalan sambil bertanya dimana toilet umum ? Akhirnya mampir ke rumah makan yang baru buka dan minta tolong kepada pemiliknya. "Hallo, could you help me for toilet ?', permohonanku kepada pemilik resto. Silakan katanya ... aku bergegas menuju toilet. Selesai juga, badang terasa ringan dan pastinya plong. Aku ucapkan terima kasih banyak dan aku bilang harus bayar berapa ? Gratis katanya. "Thank's a lot for your help". Tapi CD-ku ketinggalan di dalam toilet sana. Kalau keadaan CD biasa ga apa apa, tapi yang ini sudah ada sedikit 'jejak petualangannya'. Aduh malu-ku sudah menumpuk dan sangat merasa bersalah, sudah minta tolong tambah bikin masalah. Sampai 2 hari aku masih memikirkan kejadian ini. Dari kejauhan ini, aku minta maaf yang sebesar-besarnya kepada pemilik resto, aku benar-benar tidak sengaja.

Panggil taxi kembali ke hotel (130 Peso) karena waktu sudah mepet untuk check out dan harus segera ke Airport. Dasar naluri petualang, ada obyek yang bagus pasti tidak akan dilewatkan untuk diabadikan walau waktunya sudah semakin mepet. Di dekat hotel ada TRIAPCOM. Jeprat-jepret dengan kamera abadikan Hotel Elena dan Triapcom tadi. Akhirnya kami meninggalkan hotel menuju airport dengan shuttle van (free). Walaupun gratis tapi aku tidak lupa menyelipkan uang 100 Peso kepada driver sebagai ucapan terima kasih.

Sebelum check in, kami masih sempat mengambil foto di beberapa spot area bandara. Di sini banyak taxi yang mengangkut penumpang dari/ke Kota Davao. Ada juga angkot umum yang berwarna hijau, taripnya pasti lebih murah daripada taxi. Airport Davao kelihatannya kecil padahal bandara ini bisa didarati pesawat Boeing 747.

Seperti juga di Clark, prosedur masuk bandara sampai terbang mempunyai standar yang sama. Yang berbeda hanyalah bentuk dan situasi bandara. Bentuk phisik luar dan dalam Davao International Airport lebih baik, rapi, bersih dan lengkap. Pantas saja terminal fee-nya lebih mahal (200 Peso) daripada Clark. Bandara yang berlantai dua ini menyediakan berbagai fasilitas antara lain armada taxi, internet gratis, outlet makanan minuman, outlet souvenir, lounge da ruang tunggu domestik yang nyaman (Gate 1 sampai 8).

Pelayanan arrival dan departure di Airport Davao sudah terpisah, tidak seperti di Clark. Di lantai pertama untuk check in dan counter terminal fee serta ruang tunggu ada di lantai dua. Ketika check in sempat memberikan beberapa sticker keindahan alam Indonesia dan sticker gambar burung garuda. Semua orang yang menerima pemberian kami rata-rata merasa senang.

Ketika hendak menaiki tangga pesawat, kami disapa oleh Crew darat maskapai. "Sir, look this, your stickers", katanya sambil menunjuk ID Card-nya yang telah ditempeli sticker Indonesia pemberian kami sewaktu check in. Aku kaget dan terharu, sampai sebegitu mereka senangnya. Sebelum pesawat mengudara putraku memberi sticker lebih banyak lagi kepada Crew di atas pesawat sehingga menjadi rebutan para pramugari. Kalau saja setiap Warga Negara Indonesia ketika ke LN membawa dan memperkenalkan Indonesia lewat sticker yang cantik. Upaya ini dapat dipastikan Indonesia lebih cepat dikenal di manca negara. Itulah yang kami lakukan selama ini, sudah ratusan sticker kami bagikan gratis ketika kami berada di LN.

Hebatnya, pesawat hanya mengangkut 15 penumpang dari Davao ke Clark. Apa nggak rugi tuh ? Setelah mengudara selama 1,5 jam, kami landing di Clark yang disambut hujan lebat. Menuju ke Terminal Dau dengan jeepney AC (50 Peso), ambil bags yang aku titip di warung terminal kemudian masuk Sogo Hotel yang telah aku booking kemarin.

Inilah hari terakhir kami di Filipina. Kami harus mengoptimalkan sisa waktu yang tersisa. Tidak berlama-lama istirahat di hotel, kami langsung jelajahi kembali wilayah Dau, Balibago park, Angeles City dan SM City Clark. Kami puaskan berkeliling dengan jeepney ke Angeles City sampai Holy lalu kembali menuju SM City Clark.

Banyak juga hotel di Clark, Dau dan Angeles City ada Sogo Hotel letaknya di samping Terminal Mabalacat, Clarkton Hotel, Clark Star Hotel di Balibago, Tune Hotel atau Hotel Bliss. Mal juga banyak tersebar di sini, yang terbesar adalah SM City Clark. Obyek lainnya di sekitar sini adalah Casino Paccor, City Hall Angeles City, Mt. Pinatubo dan Clark Flying School.

Di waktu terakhir kami belanja bahan baku untuk makan malam dan sarapan esok pagi. Di SM Clark beli air  mineral, mie cup, ikan tuna kaleng, sawi dan buah-buahan. Malamnya kami olah dengan nasi putih yang telah kami masak di magic com. Mengemas semua barang dan memisahkan mana yang akan dibawa ke cabin dan mana yang dibagasikan.

Menunggu kantuk datang, aku stel TV hotel yang ternyata banyak channel free pornonya, seperti channel Adult Asia dan Adult US/EURO. Lagi asyik-asyiknya istirahat listrik mati untung aku bawa senter, begitu juga bawa payung yang kupakai ketika turun hujan di Clark dan untung bawa gembok kecil yang berguna ketika aku titip 3 bags di warung Terminal Mabalacat.

Ini pagi terakhir di Filipina, setelah sarapan dan mengemas terakhir barang bawaan kemudian dengan jeepney AC (100 Peso) menuju Clark Airport. Check in beres dan bayar Terminal Fee 600 Peso. Di dompet ada tersisa uang 1800 Peso. Karena dipastikan sudah nggak ada lagi keluar Peso, maka uang Peso tersebut aku tukarkan menjadi Ringgit di money changer dalam bandara. Kemudian pada waktunya kami terbang selama 3 jam 45 menit menuju Low Cost Carrier Terminal 'LCCT', Kuala Lumpur-Malaysia.

Kisah traveling yang panjang akan kami akhiri ketika transit beberapa jam di LCCT. Begitu pesawat mendarat di LCCT kami ber-3 langsung berlari menuju desk imigrasi untuk menghindari antrian panjang. Kemudian cepat-cepat mengambil bagasi dan beli tiket Bus StarShuttle buat isteri dan putraku menuju Puduraya (12 Ringgit). Uang Ringgit yang ada aku bagi buat aku dan buat isteriku untuk beli oleh-oleh di Supermarket My Din dekat Terminal Pudu.

Aku cuma pegang beberapa Ringgit saja sekedar untuk makan dan minum kopi di sore hari. Isteriku tentu bagiannya lebih banyak karena untuk beli oleh-oleh. Aku bilang sama mereka hitungnya yang cermat ya nanti kalau salah hitung kamu nggak bisa kembali ke LCCT. Soalnya tiket bus StarShuttle nggak bisa dibeli pp, jadi jangan lupa sisakan 24 Ringgit untuk perjalanan dari Pudu ke LCCT. Oce ... oce ... katanya. Ya sudah,   untuk antisipasi isteri dan putraku datang terlambat, aku serahkan paspor dan boarding pass buat mereka. Kuingatkan lagi kepada mereka, paling lambat kamu harus tiba di sini (LCCT) tepat pukul 8 malam ya !  kalau terlambat tanggung jawab sendiri dan aku pasti berangkat walau tanpa kalian. Dalam hati semoga aja nggak terlambat gara-gara hanya ingin beli oleh-oleh yang lebih murah di My Din. Resikonya kalau terlambat tiket akan hangus dan saat itu harga tiket Kuala Lumpur - Surabaya sudah mencapai 3 Jutaan / orang karena seminggu lagi bulan puasa.

Aku check in sendiri dengan 1 bagasi dan ditanya petugas "Mana 2 orang lagi Pak Cik ?", tanya petugas. Kujawab sebentar lagi dia akan datang. Dalam waktu yang mepet aku lihat dari kejauhan isteri dan putraku muncul tapi aku sengaja tidak menghampirinya. Kami bertemu di imigrasi ketika hendak masuk ke ruang tunggu.

KESIMPULAN

Perjalanan keluarga ber-3 selama 8 hari di Philippines membawa kegembiraan dan kenangan yang tidak akan terlupakan. Kekompakan dalam pembagian telah menghasilkan perjalanan yang lancar dan menyenangkan. Tiga kota utama di Philippines telah kami jelajahi Angeles City termasuk Clark, Metro Manial dan Davao.

Rencana yang tersusun rapi tapi fleksibel membawa kesan rileks. One day visit to Davao juga sangat luar biasa dan sangat optimal. Ke Davao hanya 1 hari 1 malam dengan Flight 1,5 jam terbang banyak orang bilang itu adalah pemborosan tapi semua itu hanya kami yang tau. Ceritanya begini, aku sudah beli tiket pp Kuala Lumpur - Clark. Namun beberapa bulan kemudian ada promo free seat dari Clark ke Kalibo dan dari Clark ke Davao. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, maka aku pilih ke Davao sebagai tambahan perjalanan kami. Kemudian waktunya aku selipkan di antara jadwal semula.

Menjelajah Philippines telah memberi pelajaran berharga dan pelajaran baru yang tidak bisa dinilai dengan uang. Kunci kesempatan, biaya dan kesehatan telah Allah berikan kepada kami semua, sehingga kami harus tetap bersyukur dan bersujud kepadaNya agar kami bisa menjelajahi bumiMU yang lain, Amin 3X YRA. Terima kasih Ya Allah.

6 KALI NAIK PESAWAT BER-3 SELAMA 8 HARI BAWA OLEH-OLEH, HANYA 6 JUTA RUPIAH

Semoga aja kisah ini tidak membosankan para pembacanya, karena tujuan kami adalah ingin men-share pengalaman apa adanya ... Cheers




Copyright© by RUSDI ZULKARNAIN 
email  : alsatopass@gmail.com     

10 komentar:

Anonim mengatakan...

huuuuaaaa....panjang banget tulisannya Pak, tapi komplit dan lumayan detail, sangat berguna sebagai masukan buat saya yg mmg berencana berangkat ke filipina 2 minggu lagi. jadi ada gambaran ttg filipina, walopun nanti pas disana bakal dipandu oleh guide city tour dari perusahaan sponsor :) tp jadi tau apa yg bakal diharapkan experience-nya.
Sama info tentang bbrp harga snack/minuman ringan, dimana beli oleh2 dan souvenir...nice info :D
Lanjutkan travelling, sharing dan memperkenalkan Indonesia lewat sticker2-nya Pak...!!!

Anonim mengatakan...

Cerita dan pengalaman yang hebat Pak. dan keluarga yang seruuuu pastinya.

saya berencana untuk ke Filipina bulan oktober 2013 ini,selama 5 hari. ke kota mana saja dan objek apa saja yang Rekomended untuk di kunjungi??

lebih baik menukarkan rupiah ke peso di indonesia atau di manila??

klo berangkat dari jakarta lebih baik landing di bandara apa ya?? saya naik cebu air.

sticker seperti apa sih pak yang dibagikan?? apakah seperti kartu pos??

terima kasih.



kapan Trip lagi pak????
Ikuttt dong... hheeee...

@andre_sinaga

seratusnegara mengatakan...

Halo Lae Andre, enaknya mendarat di Manila krn ke kota tdk begitu jauh. Bawa US$ aja nti di TKP tukar Peso. Destinasi sangat relatif dgn kekuatan kita, yg penting explore dlm kotaa dulu selebihnya boleh ke luar kota pilih yg paling menarik. Mksh Lae, horas ....

Anonim mengatakan...


tulisan dan perjalanan yang luar biasa pak,6 juta ber 3 itu sudah include semuanya pak??
saya berencana ke brunei, manila, puerto pricesa dan cebu 6-15 september ini. semua tiket pesawat sudah saya dapatkan, hanya saja akomodasi di kota2 tujuan yang belum kami dapatkan.

Fahmi mengatakan...

Pak bisa minta no telp kenalan pak Muslim yg davo..sy rncn trip ke davao..SMS ke sya di 081219188110

andre hizkey mengatakan...

tulisannya bagus sekali pak :) !
saya berencana ke Philippines sendirian dan pergi empat wilayah : Manila, Cebu, Kalibo, serta Boracay Island. Apakah filipina aman pak? karena saya pernah baca tingkat kriminalitas yang tinggi di manila. Terima Kasih. Warm Regards!

seratusnegara mengatakan...

Hai Brother Andre, pada umumnya utk orang Asia kalau ke Filipina aman-aman aja. Yang banyak orang kuatirkan kalau ke pergi bagian selatan,tapi itu juga sangat relatif resikonya. Di Manila cukup hati2 aja, saya kira ga ada masalah. Selamat journey ke Filipina ya.

Cheers

Cinta Bahasa Melayu mengatakan...

Saya tertarik dengan satu kalimat bapak yg menyatakan warga Filipina Muslim banyak yang bisa berbahasa Indonesia.

Dari mana mereka belajar bahasa Indonesia? Selama di Filipina, amat jarang saya lihat kontak antara Filipina dengan Indonesia. Atau mungkin mereka berbahasa Melayu yang pada sangkaan bapak, mereka pakai bahasa Indonesia?

Kalau iya, bisa difahami krn kontak antara orang Filipina dengan Malaysia amat kuat atas faktor kedekatan jarak dan kerja. Amat banyak pendatang Filipina yg kerja di Malaysia sebagai tenaga kelas bawah, terutama di Sabah. Saya belum pernah dengar kalau Filipina mengirim TKW atau buruh kasar ke Indonesia.

Salam. Saya guru bahasa Melayu di Kinabalu. Siswa saya juga rata-rata anak-anak Malaysia keturunan Filipina, selain Indonesia.

asambackpacker01 mengatakan...

sangat jarang yang menulis trip ke Filipina semenarik tulisan bapak. jadi pengen ke sana suatu kali nanti. terimakasih sharenya pak.

Fahmi mengatakan...

i see, jadi ke philipine gak terlalu mahal juga ya :)) perlu dicoba juga deh nanti :D